{"id":2208,"date":"2025-05-28T14:10:09","date_gmt":"2025-05-28T14:10:09","guid":{"rendered":"https:\/\/lirboyopress.com\/?post_type=product&#038;p=2208"},"modified":"2025-05-28T14:10:09","modified_gmt":"2025-05-28T14:10:09","slug":"kenapa-kita-bermazhab-mengukuhkan-sistem-bermazhab-dan-kajian-kritis-atas-idiologi-anti-mazhab","status":"publish","type":"product","link":"https:\/\/lirboyopress.com\/?product=kenapa-kita-bermazhab-mengukuhkan-sistem-bermazhab-dan-kajian-kritis-atas-idiologi-anti-mazhab","title":{"rendered":"KENAPA KITA BERMAZHAB Mengukuhkan Sistem Bermazhab dan Kajian Kritis atas Idiologi Anti Mazhab."},"content":{"rendered":"<p>Judul : KENAPA KITA BERMAZHAB Mengukuhkan Sistem Bermazhab dan Kajian Kritis atas Idiologi Anti Mazhab.<br \/>\nKepengarangan :<br \/>\n1. Agus Abdulloh Ammar<br \/>\n2. Abdul Basith<br \/>\n3. Habiburrahman<br \/>\n4. M. Afin<br \/>\n5. Moh. Habibulloh Mahmud<br \/>\n6. M. Fahda Abdillah<br \/>\n7. Maulana Musyaffa`<br \/>\n8. M. Jirjis<br \/>\n9. M. Awwabin al-Kautsar<br \/>\n10. Ach. Syauqi Ridlo<br \/>\n11. Fatchi Fauzi<br \/>\n12. Abdul Alim asy -Syairozi13. Kurniawan<br \/>\n14. Zainurrahman<br \/>\n15. Jabir as-Shobah<br \/>\n16. Zidan Nawawi<br \/>\n17. M. Zainur Rozikin<br \/>\n18. Zuhron<br \/>\n19. Zuhrul Chadiq<br \/>\n20. Mas`ul Aniddin<br \/>\n21. Barkah Jihaduddin<br \/>\n22. M. Rohmatullah<br \/>\n23. Fahrul Rozi<\/p>\n<p>Dimensi buku : 15,5 x 23 cm<br \/>\nEdisi : Pertama<br \/>\nPeruntukan:<br \/>\nSeri: Satu<br \/>\nTahun terbit : 2025<br \/>\nJenis pustaka : fiksi\/non fiksi*<br \/>\nKategori jenis : terjemahan\/non terjemahan*<br \/>\nTerbitan : pemerintah, swasta, perguruan tinggi*<br \/>\nSub : penelitian\/non penelitian*<br \/>\nKategori buku :lepas\/berjilid*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam sejarahnya, fikih, yang selama berabad-abad diwakili oleh empat mazhab besar, selalu bergumul dan berdialog dengan realitas kehidupan manusia. Dalam ranah itulah fikih memang seharusnya berfungsi. Memasuki era modern, fikih dalam bingkai empat mazhab dituntut untuk terus melaju lebih cepat mengejar arus perkembangan yang sedemikian pesat. Namun, sebagian orang masih menaruh keraguan dan mempertanyakan kapasitas fikih empat mazhab dalam berdiaolog dengan dinamika realitas modern. Sebagian mereka menggugat kembali kemapanan empat mazhab fikih dan meminggirkannya dari realitas kehidupan keagamaan modern, karena dianggap tidak mampu berjalan sejajar dengan laju perkembangan.<br \/>\nDi samping itu, mereka menyandangkan stigma negatif pada fikih empat mazhab yang menurutnya bagian dari bentuk ortodoksi yang menghambat kemajuan intelektual umat Islam. Dalam menjalankan agama dan merespons perkembangan modernitas, mereka mengambil jalur \u201cijtihad\u201d menurut pengertian mereka sendiri. Dengan menyitir \u201cbunyi\u201d ayat-ayat dan hadis secara apa adanya, mereka menuding praktik taklid dan bermazhab sebagai suatu yang dilarang agama. Kami menyebutnya golongan antimazhab. Adapun sebagian yang lain tidak secara tegas mengekpresikan antipatinya terhadap fikih empat mazhab. Sebaliknya, pengakuan-pengakuan verbal mereka menyatakan penghormatan yang besar terhadap fikih empat mazhab sekaligus menegaskan identitasnya sebagai penganut sistem mazhab. Agenda besar yang mereka perjuangkan adalah menyegarkan kembali konstruksi fikih agar selalu adaptif terhadap perkembangan modern dengan tetap berdiri di atas pondasi fikih empat mazhab. Akan tetapi, aroma dari produk pemikiran dan gagasan mereka merepresentasikan kecenderungan menabrak pakem-pakem sistem bermazhab. Kami menyebutnya golongan post-tradisionalisme yang gagal memegang prinsip.<br \/>\nKecenderungan melepas keterikatan dengan fikih empat mazhab adalah sumber pokok bagi derasnya arus pemikiran yang telah bergeser dari nilai-nilai keislaman yang telah digariskan para ulama pendahulu. Sebab sejauh ini, ulama pendahulu kita merupakan sarjana-sarjana besar fikih empat mazhab yang, tentu saja, menganut sistem bermazhab. Beragam pemikiran yang berakar pada kecenderungan melepas mazhab fikih itu dapat kita rasakan hingga detik ini, misalnya, salaf-wahabi yang belakangan dakwahnya semakin masif dan telah meluas ke berbagai pelosok negeri pertiwi ini.<br \/>\nEsensi Mazhab Fikih<br \/>\nFikih (hukum-hukum Islam) semula lahir dari jalan pemikiran (manhaj) yang masih dalam bentuk konsepsi masing-masing ahli hukum. Perkembangan selanjutnya, jalan pemikiran tersebut dibakukan dan disusun secara rapi yang belakangan disebut dengan ushul fikih (kerangka metodologis). Merupakan syarat mutlak bagi seorang mujtahid mendesain kerangka metodologis pemikirannya secara mandiri.<br \/>\nSehingga dari kerangka metodologis (ushul fikih) inilah pemikiran-pemikiran para ahli hukum mengalir membentuk entitas baru bernama \u2018fikih\u2019. Dari sini dapat secara mudah dipahami dari mana asal penciptaan nuansa pluralitas (khilafiyyah) pendapat-pendapat fikih yang tak lain dari perbedaan kerangka metodologis yang beragam dari tiap-tiap mujtahid.<br \/>\nHasil pemikiran hukum (fikih) dari tiap-tiap mujtahid tersebut, kemudian dilembagakan menjadi aliran pemikiran hukum yang popular disebut \u2018mazhab Fikih\u2019.<br \/>\nMengenai arti mazhab dalam istilah fikih Syaikh Abu Bakr Syata ad-Dimyati menulis:<br \/>\n\u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0639\u0652\u0645\u0650\u0644\u064e \u0641\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627 \u0630\u064e\u0647\u064e\u0628\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0625\u0650\u0645\u064e\u0627\u0645\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0623\u064e\u062d\u0652\u0643\u064e\u0627\u0645\u0650<br \/>\nKemudian, (kata mazhab) digunakan untuk mengistilahkan pandangan-pandangan seorang imam (mujtahid) tentang hukum-hukum<br \/>\nSementara itu, bermazhab dalama fikih tak lain merupakan istilah yang menunjuk pada suatu cara menjalankan tuntunan syari`ah dengan berpedoman pada salah satu mazhab fikih. Atau dalam Bahasa yang lebih baku dan formal Syaikh abdul Fatah Qudais menulis:<br \/>\n\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u062a\u0651\u064e\u0645\u064e\u0630\u0652\u0647\u064f\u0628\u064e \u0647\u064f\u0648\u064e \u0627\u0644\u0623\u064e\u062e\u0652\u0630\u064f \u0628\u0650\u0645\u064e\u0630\u0652\u0647\u064e\u0628\u0650 \u0625\u0650\u0645\u064e\u0627\u0645\u064d \u0645\u064f\u062c\u0652\u062a\u064e\u0647\u0650\u062f\u064d \u0625\u0650\u0645\u0651\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u062c\u064f\u0645\u0652\u0644\u064e\u0629\u0650 \u0628\u0650\u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0623\u0652\u062e\u064f\u0630\u064e \u0628\u0650\u0631\u064f\u062e\u064e\u0635\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0630\u0652\u0647\u064e\u0628\u0650 \u0648\u064e\u0639\u064e\u0632\u064e\u0627\u0626\u0650\u0645\u0650\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0645\u0651\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a \u0645\u064e\u0633\u0652\u0623\u064e\u0644\u064e\u0629\u064d \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0623\u064e\u0643\u0652\u062b\u064e\u0631\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0645\u064e\u0630\u0652\u0647\u064e\u0628\u0650\u0647\u0650<br \/>\nSesungguhnya bermazhab ialah mengambil pendapat-pendapat Imam mujtahid, baik secara totalitas, dalam arti bersedia menjalankan hukum-hukum rukhsah (dispensasi) dan `azimah (standart normatif), atau (secara parsial) hanya dalam satu kasus permasalahan atau lebih<br \/>\nDalam praktiknya (dimasa kini), bermazhab dalam fikih umumnya dipandu oleh sejumlah literatur mazhab yang memuat di dalamnya keputusan-keputusan hukum seorang mujtahid. Tegasnya, semua teknis pelaksanaan, misalnya ibadah, selalu mengacu pada ketentuan-ketentuan meliputi syarat, rukun dsb yang tertera dalam literatur mazhab. Disamping itu segala bentuk kejadian dan peristiwa senantiasa dipertanyakan statusnya di mata hukum dan dicarikan jawaban berikut solusinya melalui literatur dalam lingkungan mazhabnya.<br \/>\nMeskipun hal di atas memperlihatkan betapa bermazhab fikih memiliki ikatan dan pertalian yang sangat erat dengan Imam mujtahid yang menjadi panutannya, akan tetapi seseorang tidak dituntut untuk mengucapkan ikrar yang menyatakan diri ikut dan setia kepada Imam mazhab yang dianutnya (sebagaimana yang terjadi dalam praktik tarikat tasawuf). Melainkan eksistensi bermazhab mulai berjalan seiring dengan pengamalan atas ketentuan hukum dalam mazhab tertentu.<br \/>\nGambaran sederhana mengenai praktik bermazhab fikih di atas, setidaknya dapat dibaca dari realitas keIslaman masyarakat Indonesia secara umum dan masyarakat pesantren secara khusus yang mayoritas penganut mazhab Syafi`i<\/p>\n","protected":false},"featured_media":2209,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":[],"product_brand":[],"product_cat":[29],"product_tag":[],"class_list":["post-2208","product","type-product","status-publish","has-post-thumbnail","product_cat-fikih","first","instock","sale","shipping-taxable","purchasable","product-type-simple"],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/product\/2208","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/product"}],"about":[{"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/product"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2208"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2209"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2208"}],"wp:term":[{"taxonomy":"product_brand","embeddable":true,"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fproduct_brand&post=2208"},{"taxonomy":"product_cat","embeddable":true,"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fproduct_cat&post=2208"},{"taxonomy":"product_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lirboyopress.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fproduct_tag&post=2208"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}